Yuk lihat misteri di Gedung Juang, Kota Bekasi.

Saya teringat akan sebaris sajak Chairil Anwar : “Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi….”

Hai teman-teman puteriputeri.com yang budiman. Di sini saya, Alfian Saipulloh ingin menjelajahi Kota Bekasi, di mana kota Bekasi ini terdapat bangunan tua yang berdiri kokoh sampai saat ini yang dinamakan Gedung Juang 45.

Sebuah hal yang menarik bahwasanya Bekasi masih memiliki gedung bersejarah peninggalan sebelum Indonesia merdeka, yang terkenal sebagai gedung tinggi yang terletak di Jalan Sultan Hasanudin.

Gedung ini bernama Gedung Juang 45, di kawasan Tambun, Bekasi, akan tetapi sebelum revolusi kemerdekaan, bangunan ini beri nama landhuis tamboen atau Gedung Tinggi Tamboen, oleh penjajah Belanda.

Gedung Juang 45 merupakan saksi situs sejarah, kisah para pahlawan dahulu kala memperjuangkan dan mempertahankan tumpah darah Negara Indonesia NKRI tercinta dari para penjajah Belanda.

Gedung tinggi ini merupakan salah satu gedung bersejarah yang turut menjadi saksi bisu perjuangan Rakyat Indonesia meraih dan mempertahankan kemerdekaannya.

Pada tanggal 10-03-2017 lalu, saya beserta kerabat saya berkunjung ke Gedung Juang 45 untuk melihat-lihat suasana Gedung Juang ini. Tujuannya adalah mengenang, paling utamanya adalah untuk mendo’akan arwah para pahlawan Kemerdekaan RI.

Di gedung tua ini masih menyimpan cerita misteri, terutama saya terpana pada sebuah ruangan yang masih jelas ada noda darah pejuang yang tewas disiksa para agressor penjajah Belanda..

Untuk mendatangi lokasi Gedung Juang 45 sangat lah mudah karena berada di jalan protokol untuk nama jalannya yaitu jalan Sultan Hasanudin No.5 Mekasari, Tambun Selatan, Bekasi, Jawa Barat.

Saya beserta kerabat saya medatangi tempat tersebut dengan menggunakan sepeda motor, sesampainya di lokasi Gedung Juang 45 saya sempat menunggu Bapak Tua Penjaga gedung ini yang sedang memangkas rambutnya heheheh 🙂

Setelah selesai saya langsung meminta izin dengan Bapak Tua petugas jaga di sini untuk masuk ke dalam Gedung Juang tersebut dan ia mengizin kan kami untuk masuk.

Kami pun berjalan ke arah Gedung Juang 45 lalu kami di hampiri seseorang juru kunci gedung yang yang juga sudah tua.

Bapak Tua yang ramah ini  mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam dan menceritakan sejarah Gedung Juang 45 ini dan ia juga memandu kami untuk masuk ke dalam dikarenakan Gedung Juang tersebut mempunyai cerita misteri.

Kami pun berkeliling di lokasi dan bapak tersebut memberikan informasi kepada kami satu per satu ruangan–ruangan dan kegunaannya pada jaman dahulu kala.

Pertama Kami memasuki ruangan yang oleh Pak Tua Juru Kunci itu disebutnya sebagai Ruangan Gubernur Jendral dan seketarisnya.

Batin saya, mungkin bukan Gubernur Jenderal, karena Gubernur Jenderal lazimnya di kapital Batavia, hanya saja mungkin ruangan seorang pejabat administratur  di Tamboen, Bekasi ini dulunya. Kalau Gubernur Jenderal pernah nyamper ke tempat ini, mungkin iya, pernah 🙂

Ruang ini menurut pak Tua juru Kunci belum pernah direnovasi sama sekali dari awal berdiri bangunan ini, hanya dindingnya saja yang dicat ulang

Selanjutnya kami melihat ruang pintu masuk bawah tanah akan tetapi sudah ditutup dan ditimbun tanah, jadi kami tidak bisa memasuki ruangan tersebut.

Lalu kami ke ruang santai atau ruang makan, yang menurut Juru Kunci Gedung Juang 45 ini konon dulu Bung Karno pernah sekali datang dan beristirahat di ruangan ini.


Selanjutnya kami ke ruang atas di sana kami melihat atap yang sudah didiami puluhan ekor mungkin ratusan ekor Kelelawar, sehingga ruang tersebut terdapat banyak kotoran kelelawar dan mengeluarkan bau yang tidak sedap.

di bawah (lantai) kotoran kelelawar
ratusan Kelelawar di atag Gedung Juang 45

Lalu kami menemui ruang sidang, di mana jaman penjajahan Belanda, ruang ini digunakan untuk menyidang orang-orang yang gigih menentang politik Belanda di waktu itu, biasanya yang melawan arogansi penjajah Belanda.

Memang strategi Belanda saat menjajah di negara mana saja, selalu menggunakan politik apartheid, memisahkan antara bangsa Belanda dan bangsa para budak pribuminya secara sosial ekonomi.

Karena itu makin banyak pribumi yang akhirnya memilih jadi pejuang, karena sudah jengah dengan kesewenang-wenangan Belanda.

Aparat Belanda di negara jajahan, mereka amatlah kejam, mereka para Aparatur Belanda ini jaman dulu rajin menangkapi dan menyiksa orang-orang yang tak suka pada Belanda, kemudian disidangkan, salah satu gedung tempat penghukuman para pejuang Republik adalah di Gedung tua ini pada jaman dulu.

Dan di samping sebelah kanan terdapat ruangan yang dahulu, pada suatu waktu perjuangan, -setelah Gedung ini ditinggal lari Belanda setelah terdesak pejuang repuiblik,- Jendral Soedirman pernah tidur atau beristirahat di ruangan ini selama tiga hari.

Ketika mengisahkan hal ini, bapak Tua Juru Kunci dan Bapak Tua penjaga yang tidak mau disebutkan namanya ini sedih, matanya terlihat terharu, mungkin terkenang akan peristiwa tersebut.

Kami melanjutkan ke ruangan selanjutnya yaitu : Ruangan Penyiksaan bagi tahannan dan para pejuang yang berani menentang penjajah Belanda.

Percaya atau tidak pemirsa, di ruangan ini masih menyiskan sisa-sisa noda darah (blood stain) di lantainya.

Kata Bapak penjaga, memang noda darah ini ndillallah tidak bisa dihilangkan, atau sangat sulit untuk dibersihkan.

Pemirsa puteriputeri.com bisa melihat sendiri noda darah di lantai ini, bayangkan sejak jaman perjuangan kemerdekaan hingga kini masih ada bekas-bekas noda darahnya.

Maka kami pun berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar arwah para pahlawan kemerdekaan yang gugur di sini mendapat syurganya Alloh, Amin.

“Mas, ini ruang penyiksaan para pejuang, dan sampai saat ini darah tersebut tidak bisa dibersihkan, ” ujar pak Tua Juru Kunci Gedung Juang 45 ini.

Noda darah, di salah satu ruangan Gedung Juang 45, Tambun, Bekasi

Mungkin untuk menambah suasana syahdu atau apa, Bapak Tua juru Kunci ini juga kemudian berujar bahwa, di ruangan ini juga sering nampak  sesosok wanita cantik memakai pakaian khas Belanda.

“Oh, begitu ya pak” balas saya sambil berpikir membatin, kok yang nampak justru noni Belanda?

Lagian, kalau yang sering nampak-nampak seperti itu dengan sosok yang monoton di manapun tempat angker misal : perempuan rambut panjang pakaian putih, biasanya faceless, sosok Noni Belanda, di mana-mana tempat kuno pasti ada hantu Noni Belanda-nya. iya kan?, kemudian sosok anak kecil berlarian, sosok hitam berbulu, sosok mirip manusia, dan lain-lain sosok-sosok yang penampakannya monoton, mereka biasanya adalah makhluk halus atau Jin biasa saja, bukan arwah manusia.

Arwah manusia mati, ya selesai urusan mereka di dunia fana ini.

Lagian juga susah banget melihat Jin, emang gampang ?

Kemudian kami masuk ke salah sebuah ruang kantor di mana tempat pencatatan para pejuang kemerdekaan dan para warga berjiwa pmberani yang menentang Belanda yang mendapatkan hukuman.

Juga ada ruangan tempat penyimpanan jenazah para pejuang yang tewas dihukum Belanda di gedung ini.

Saya membatin, bukankah ini termasuk para penjahat penjajah Belanda itu melanggar HAM berat ?

Uniknya, di sini juga terdapat brankas yang berwarna kekuningan, konon bila mana bisa membukanya masih terdapat uang pada zamannya ya ini konon katanya ya 🙂

Nah pembaca, kalau foto di bawah ini adalah tempat penyimpanan mayat yang di hukum dan disiksa di Gedung Juang ini,

Masih terlihat jelas bekas darah mayat di ruangan ini yang tidak dibersihkan jelas  Bapak Tua Juru Kunci Gedung Juang 45, Tambun, Bekasi ini.

Di sini sekali lagi kami banyak-banyak berdoa. Berdoa hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar arwah para pejuang mendapat Syurganya Alloh. Amin.

Bapak Juru Kunci ini menceritakan dulunya banyak tumpukan–tumpukan mayat di sini (Raut muka sang Bapak bersedih).

Menurut saya, saat kami memasuki Gedung Juang ini tidak ada perasaan khawatir atau takut.

Melainkan kita memasuki gedung–gedung bersejarah akan mendapatkan informasi dan mengenang para pahlawan kita pada zaman dahulu untuk memperjuangkan kemerdekaan NKRI tercinta.

Jadi kita tahu bahwa merdeka bukanlah gratis pemberian dari penjajah Belanda atau penjajah Jepang, atau bangsa penjajah yang lain lagi.

Merdeka itu diperoleh dari sebab tumpukan-tumpukan mayat pejuang kita. Merdeka itu diperoleh dari jutaan liter darah merah yang tertumpah di tanah pertiwi, dan Merdeka itu diperoleh dari air mata, keringat dan penderitaan rakyat Indonesia.

Sekali Merdeka tetap merdeka ! Monumen Pejuang di Gedung Juang 45, Tambun, Bekasi

Hanya itu yang saya rasakan dan, sekali lagi kami banyak berdo’a, karena berdo’a di tempat-tempat seperti ini, dengan khusu’ mendoakan para arwah syuhada pejuang kemerdekaan yang rela berkorban nyawa untuk NKRI, adalah baik untuk dilakukan, agar tertanam jiwa patriotisme setiap kali menyaksikan situs-situs yang pernah pejuang kita berjuang dengan gagah berani.

Sedangkan untuk urusan makhluk halus, yah apa mau dikata di mana saja pasti ada makhluk halus atau Jin, mau diapain lagi mereka makhluk halus Jin ini ? Diusir kan gak mungkin, dimensinya beda, mereka tinggal di dimensi lebih tinggi dari tiga dimensi ruang plus dimensi waktu (dimensi keempat) kita di dimensi manusia hidup ini di dimensi keempat.

Mau Jin itu di tembak laser kayak film hollywood ghost buster, jelas ngayal banget, atau kita bisa berpapasan dengan malhluk halus keluar dari sumur kayak thriller film The Ring 2 dan nanti 3 ? Ini kan cuma khayalan film Jepang.

Karena dimensi kita di empat dimensi ini beda dengan dimensi makhluk halus Jin itu berbeda, mereka Jin mungkin tinggal di dimensi kelima. jadi mereka Jin bisa melihat kita, namun kita sulit melihat mereka, itu saja secara dimensional, kenapa kita repot mencarinya ? ga usah dicari 🙂

Saran dari saya masyarakat harus berpikir jernih tentang bangunan yang sudah lama tidak ditinggali dan menaruh banyak misteri, karena alam dimensi makhluk halus itu berbeda dengan kita manusia.

(Liputan oleh : Alfian Saipulloh)

Write A Comment